Jawa Tengah, 2025 — Sebuah video dari TikToker bernama @geotrack_id menjadi sorotan nasional setelah ia mengunggah seri dokumenter pendek yang membongkar mitos menyeramkan tentang sebuah desa terpencil yang disebut-sebut angker selama puluhan tahun.
Dalam video berdurasi 3 menit itu, sang TikToker menyusuri Desa Gondoarum, sebuah pemukiman kecil di lereng pegunungan yang dikenal luas karena cerita-cerita horor tentang penampakan, suara misterius, hingga kutukan.
Namun, yang terungkap justru berbalik 180 derajat dari cerita seram yang beredar. Video tersebut telah ditonton lebih dari 12 juta kali dalam waktu tiga hari dan menjadi trending di berbagai platform.
Asal-Usul Mitos Desa Gondoarum
Desa Gondoarum pertama kali disebut angker sejak tahun 1990-an karena beberapa peristiwa tragis seperti kebakaran misterius, orang hilang, dan suara gamelan gaib yang kerap terdengar tengah malam. Cerita-cerita tersebut menyebar luas melalui mulut ke mulut dan tayangan infotainment horor era 2000-an.
Warga desa sendiri cenderung menghindari pembicaraan tentang mitos tersebut, bahkan beberapa mengaku malu karena desanya dikenal bukan karena prestasi, melainkan karena “cerita hantu”.
Video TikTok yang Mengubah Segalanya
Dalam serial video investigatif-nya yang berjudul “#MembukaTabirGondoarum”, TikToker Fikri Yudha (28) menyuguhkan pendekatan edukatif dan analitis. Ia tidak hanya menyusuri desa pada malam hari, tapi juga mewawancarai tokoh masyarakat, menelusuri arsip sejarah lokal, serta menggunakan peralatan perekam suara dan pengukur elektromagnetik.
“Saya bukan pemburu hantu, tapi pemburu kebenaran,” ucap Fikri dalam salah satu videonya.
Ia mengungkap bahwa banyak “suara aneh” yang terdengar malam hari ternyata berasal dari angin berhembus melewati bambu berlubang. Penampakan “bayangan putih” di pinggir sawah pun diketahui berasal dari refleksi plastik penutup tanaman yang terkena cahaya bulan.
Reaksi Warganet: Kagum & Haru
Komentar warganet pun membludak. Banyak yang memuji pendekatan Fikri yang logis, humanis, dan tidak menghakimi.
“Akhirnya ada konten horor yang cerdas! Bukan cuma teriak-teriak, tapi bawa pencerahan,” tulis @nidahoror.
Ada pula yang terharu saat melihat warga desa menangis setelah wawancara, merasa lega karena akhirnya nama desa mereka dibersihkan dari stigma negatif.
Dampak Positif Bagi Desa Gondoarum
Pasca viralnya video tersebut, banyak netizen yang justru ingin mengunjungi desa Gondoarum, bukan untuk uji nyali, tapi untuk wisata edukatif dan budaya. Pemerintah daerah pun mulai melirik potensi tersebut.
Kepala desa, Pak Sarwo (61), mengaku terharu dan tak menyangka bahwa media sosial bisa menjadi jalan rehabilitasi citra desanya.
“Selama ini kami diam karena takut dianggap aneh. Tapi anak muda ini justru membawa semangat dan kebenaran. Terima kasih, Fikri,” ujarnya.
Fenomena Baru: Investigasi Digital Lewat TikTok
Konten seperti yang dilakukan oleh Fikri disebut sebagai bagian dari tren baru bernama “Investigasi Digital Sosial” — gabungan antara jurnalisme warga, vlog edukasi, dan pendekatan ilmiah populer.
Pakar komunikasi digital dari Universitas Indonesia, Dr. Retno Sari, mengatakan bahwa fenomena ini positif.
“Anak muda kini tidak hanya jadi penikmat konten, tapi juga produsen informasi yang kritis. Mereka mampu menyeimbangkan narasi yang sebelumnya didominasi oleh ketakutan dan mistifikasi,” katanya.
Kontroversi? Tetap Ada
Meski mayoritas warganet memuji, sebagian kecil penggemar konten horor murni menganggap pendekatan Fikri “membosankan” dan “merusak nuansa mistis”.
Namun Fikri menjawab dengan tenang melalui video klarifikasi:
“Saya tidak membunuh cerita rakyat. Saya justru ingin menghidupkannya kembali dalam bentuk yang bisa dipahami, diterima, dan dibanggakan.”
Apa Selanjutnya?
Fikri mengaku sudah mendapat tawaran dari stasiun TV digital dan YouTube untuk membuat serial lanjutan. Ia juga berencana mendatangi 10 desa lain yang disebut ‘terkutuk’ di Indonesia, untuk membongkar mitos serupa dengan pendekatan ilmiah dan dokumenter humanis.
Kesimpulan: Saatnya Cerita Lama Ditulis Ulang
Viralnya investigasi digital di desa Gondoarum menunjukkan bahwa generasi muda kini tidak hanya mencari sensasi, tapi juga kebenaran. Di balik mitos, selalu ada sejarah. Dan di balik cerita angker, selalu ada manusia yang berharap dimengerti.
Dengan pendekatan yang tepat, cerita-cerita yang dulu dianggap momok bisa diubah menjadi warisan budaya yang membanggakan.



















